Home / Berita / Temu Sahabat Seniman #1 Bahas Masa Depan Kesenian di Era Digital, Dewan Kesenian Kotabaru Dorong Kolaborasi dan Regenerasi
10 Juli 2026
Kotabaru – Dewan Kesenian Kabupaten Kotabaru menggelar Temu Sahabat Seniman #1 bertajuk "Merawat Kesenian di Zaman Kekinian" pada Jumat (10/7/2026) mulai pukul 20.30 WITA hingga selesai. Kegiatan yang dilaksanakan secara daring melalui Zoom Meeting ini menjadi ruang diskusi bagi para seniman, budayawan, pegiat seni, dan masyarakat untuk membahas strategi menjaga eksistensi kesenian di tengah pesatnya perkembangan teknologi dan perubahan zaman.
Menghadirkan tiga pemantik, yakni Gewsima Mega Putra, Ali Syamsudin Arsy, dan Sandi Firly, kegiatan ini membahas berbagai tantangan dan peluang pengembangan seni di Kabupaten Kotabaru.
Dalam paparannya, Gewsima Mega Putra menegaskan bahwa tantangan terbesar saat ini bukan sekadar mempertahankan kesenian, tetapi bagaimana seluruh pihak memiliki keberanian untuk terus merawatnya agar tetap relevan.
"Mari kita bertanya kepada diri sendiri, seberapa besar keberanian kita untuk menjaga kesenian tetap hidup. Zaman boleh berubah, teknologi boleh berkembang, dan generasi boleh berganti. Namun selama masih ada orang yang berkarya, masyarakat yang menghargai karya seni, serta semangat menjaga identitas daerah, maka api kesenian tidak akan pernah padam."
Ia menilai pengembangan seni tidak dapat dilakukan sendiri, melainkan membutuhkan kolaborasi antara pemerintah daerah, Dewan Kesenian, pelaku seni, dunia pendidikan, sektor pariwisata, hingga ekonomi kreatif.
Menurutnya, penguatan dokumentasi karya, digitalisasi kegiatan seni, regenerasi seniman, serta pengembangan seni yang memiliki nilai ekonomi menjadi langkah penting agar kesenian mampu berkembang dan memberikan manfaat bagi masyarakat.
Gewsima juga berharap kepengurusan baru Dewan Kesenian Kabupaten Kotabaru mampu menghadirkan semangat baru dalam membangun ekosistem seni yang lebih maju dan berkelanjutan.
Penyair Kalimantan Selatan, Ali Syamsudin Arsy, menyoroti pentingnya membangun semangat militansi dalam organisasi kesenian.
Menurutnya, Dewan Kesenian harus menjadi jembatan antara para seniman dengan pemerintah maupun para pemangku kebijakan.
"Semangat militansi harus ditanamkan kepada seluruh pengurus Dewan Kesenian. Dewan Kesenian bukan hanya menjadi wadah berkumpul, tetapi juga menjadi penghubung antara pelaku seni dengan para pengambil kebijakan sehingga aspirasi dan kebutuhan seniman dapat tersampaikan dengan baik."
Ia juga mengapresiasi pelaksanaan diskusi secara daring karena mampu memperluas jejaring antarseniman.
"Melalui forum seperti ini kita dapat menghadirkan narasumber maupun peserta dari berbagai daerah di Indonesia. Pertukaran pengalaman dan gagasan tersebut menjadi modal penting untuk membangun jaringan kerja sama yang lebih luas bagi perkembangan seni di Kabupaten Kotabaru."
Sementara itu, Sandi Firly mengajak organisasi seni agar mampu beradaptasi dengan perkembangan teknologi digital.
Ia menjelaskan bahwa perubahan pola konsumsi informasi membuat media sosial menjadi sarana yang sangat efektif dalam mempublikasikan kegiatan seni kepada masyarakat.
"Perkembangan media sosial telah mengubah cara masyarakat memperoleh informasi. Karena itu, organisasi seni harus aktif memanfaatkan media sosial sebagai sarana dokumentasi, publikasi, promosi, dan membangun komunikasi dengan masyarakat."
Menurutnya, generasi muda memiliki peran yang sangat penting dalam proses tersebut.
"Anak-anak muda sangat memahami perkembangan teknologi dan tren digital. Mereka perlu dilibatkan dalam setiap kegiatan, mulai dari membuat desain publikasi, dokumentasi video, hingga pengelolaan media sosial. Dengan begitu, kegiatan seni akan lebih mudah dikenal dan menjangkau masyarakat yang lebih luas."
Sandi juga memperkenalkan sejumlah program pengembangan talenta seni yang dijalankan Kementerian Kebudayaan sebagai peluang bagi seniman muda untuk terus meningkatkan kapasitasnya.
Ketua Dewan Kesenian Kabupaten Kotabaru, H. Ahmad Fitriadi Fazriannoor, menyampaikan apresiasi kepada seluruh pemantik yang telah memberikan banyak masukan bagi kepengurusan Dewan Kesenian.
Ia menilai berbagai gagasan yang disampaikan sangat relevan dengan kondisi dan tantangan yang dihadapi Dewan Kesenian saat ini.
"Paparan dari ketiga narasumber sangat mewakili tema diskusi malam ini. Banyak hal yang menjadi catatan penting bagi kami, mulai dari pentingnya regenerasi pelaku seni, pembenahan tata kelola organisasi, penguatan jejaring, pemanfaatan teknologi digital, hingga bagaimana menjadikan seni sebagai bagian dari pembangunan daerah."
Menurutnya, Dewan Kesenian Kabupaten Kotabaru berkomitmen menjadi ruang kolaborasi bagi seluruh cabang seni dengan mengedepankan profesionalisme, keterbukaan, dan inovasi.
Menjelang akhir kegiatan, panitia membuka sesi diskusi yang diikuti para peserta dan anggota Dewan Kesenian Kabupaten Kotabaru. Berbagai masukan disampaikan mengenai penguatan kelembagaan, pengembangan ekonomi seni, pemanfaatan ruang-ruang publik sebagai panggung berkesenian, hingga pentingnya dokumentasi dan digitalisasi karya seni.
Diskusi juga menghasilkan sejumlah rekomendasi, di antaranya:
memperkuat kolaborasi antara Dewan Kesenian, pemerintah, komunitas seni, dan sektor ekonomi kreatif;
membangun basis data seniman dan potensi seni di Kabupaten Kotabaru;
mengembangkan model ekonomi kreatif berbasis seni agar seniman memiliki nilai tambah secara ekonomi;
meningkatkan pemanfaatan media sosial dan platform digital sebagai media promosi kegiatan seni;
memperbanyak forum diskusi, pelatihan, dan kegiatan lintas disiplin sebagai upaya regenerasi pelaku seni;
memperkuat jejaring kerja sama dengan komunitas seni di tingkat regional maupun nasional.
Melalui Temu Sahabat Seniman #1, Dewan Kesenian Kabupaten Kotabaru berharap lahir berbagai gagasan baru yang mampu memperkuat ekosistem seni dan budaya daerah. Forum ini juga direncanakan menjadi agenda rutin sebagai ruang bertukar pikiran, membangun kolaborasi, serta merumuskan langkah strategis dalam memajukan kesenian di Kabupaten Kotabaru di era digital.
Sumber Berita: Ginfo